Berita > News

Siswa SMK 2 Ternate Bunuh Diri Pakai Tali Ayunan Adiknya

Diahi
Jenasah Al Gufran Mansur, saat dibaringkan di tempat tidur (Foto: DiahiNews/Indra Alting)

TERNATE - Bocah perempuan berusia 11 tahun itu terdiam membisu. Kelopaknya masih menyisakan air mata. Ekspresi kekanakannya menjelaskan dia belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang sedang terjadi. 

Irawati Mansur, nama bocah itu menjadi saksi pertama peristiwa kakaknya, Al Gufran Mansur, tewas gantung diri sekitar pukul 15.40 WIT, Selasa 3 Desember 2019 di dalam kamar rumah mereka di RT 03 RW 02 Kelurahan Tabam Kecamatan Ternate Utara. 

Al Gufran ditemukan tewas setelah menjerat lehernya sendiri dengan tali ayunan adiknya.

Baca Lainnya :

Peristiwa itu menghebohkan warga sekitar. Warga berbondong-bondong datang setelah mendengar teriakan Irawati.

Menurut cerita Aswin Mansur (14 tahun), adik Al Gufran, Irawati disuruh oleh Tenga, panggilan akrab Al Gufran, untuk membeli pentolan. Saat kembali, Irawati mendapati pintu depan rumahnya sudah terkunci. Irawati lalu melihat ke dalam melalui sela-sela pintu dan jendela. Di sana, dia mendapati Al Gufran sudah dalam keadaan tergantung, masih lengkap dengan seragam sekolah.

Aswin berkisah, sebelum kejadian itu, dia pulang sekolah bersamaan dengan Tenga, sekitar pukul 15.00 WIT. Dia dan kakak keduanya itu sempat berbincang.

"Ade ada ambe (ambil) doi (uang) lima ribu di atas meja tra?" tanya Gufran padanya. Uang di atas meja itu diberikan oleh kakak pertamanya untuk ongkos Gufran ke sekolah.

"Tara ada (tidak ada)," jawab Aswin. Perbincangan pun berhenti sejenak.

Iswan hendak melihat makanan di dapur. Tapi Gufron berkata, "Ikan so tra jadi (basi) makan. Nasi saja masih ada."

Aswin terdiam.

"Kita dingin," keluh Gufran.

Setelah itu, tak ada lagi kata-kata yang didengarnya. Aswin lalu pergi bermain ke Danau Tolire. 

Aswin mengatakan, di rumah mereka, Gufran lah yang selalu memasak. Warga sekitar mengatakan, Gufran anak yang baik dan rajin.

Al Gufran Mansur adalah anak kedua dari pasangan Hanafi Eso atau sering disapa Apul, dan Irna Hi Amin. Mereka lima bersaudara.

Menurut keterangan tetangganya, Apul bekerja di sebuah perusahaan di Weda. Ibu mereka, Irna, sering ke sana dan meninggalkan anak-anaknya sendiri di rumah. Beberapa kali juga, ia sempat meninggalkan anaknya yang masih balita bersama keempat kakaknya di rumah. Tapi kali ini, sejak satu bulan yang lalu, dia pergi ke Malifut membawa Aprilia Mansur, putri bungsunya. Kabar terakhir yang didapatkan warga, Irna berniat mendatangi suaminya di Weda.

Warga juga menceritakan, Irna hanya pulang untuk memberikan uang kepada anak-anaknya, lalu pergi lagi. Praktis, beban kebutuhan sehari-hari Gufran dan adik-adiknya berada di pundak kakak pertamanya, Firzan, yang bekerja sebagai karyawan di salah satu toko semen.

Sebelum pulang sekolah, Gufran memang terlihat tak seperti biasanya. Ia dikenal oleh teman sekolahnya sebagai orang yang humoris, namun cenderung tertutup. Dia tak pernah menceritakan masalahnya kepada teman-temannya.

Riski Tjan (16 tahun), teman kelasnya bercerita, Gufran sudah murung sejak di sekolah. Riski bahkan sempat bertanya pada Gufran tentang masalah apa yang membuatnya murung. Tapi Gufran menjawab tak punya masalah apa-apa.

Sebagai seorang teman, Riski dan beberapa teman lainnya pun mengajak Gufran untuk bermain kartu. Saat itu, Gufran kembali tersenyum. Tapi kembali murung setelah permainan usai.

Sehari sebelumnya, Senin 2 Desember 2019, sore hari, Gufran sempat hampir hanyut terbawa arus saat berenang bersama Abi Asis (18 tahun) di pantai Tabam. Abi Asis adalah teman akrabnya di kompleks. Saat itu, mereka baru selesai bermain sepak bola. Arus dan gelombang yang cukup kuat, sempat membawa tubuh keduanya menjauh dari daratan.

Di sana, Gufran sempat berkata ingin meninggal.

Abi kemudian memarahinya. Saat itu Gufran memang terlihat sudah kelelahan. Dia mulai putus asa. Tapi Abi menyuruhnya agar memegangi pundaknya agar bisa dibawa ke daratan. 

Abi berhasil membawa Gufran kembali ke darat setelah melawan arus dan sedikit gelombang, Menurut Abi, keinginan untuk mati itu kembali diutarakan Gufran setelah itu. Gufran sempat mengeluh jarang makan dan sering ditinggal orang tuanya. Tapi Abi berusaha menguatkan dia.

Kalimat itu bahkan masih dikeluarkan Gufran setelah kembali ke kompleks. Abi dan beberapa rekannya bahkan sampai memaki-maki Gufran karena ucapannya itu.

Abi mengatakan, meski Gufran adalah adik tingkatnya, tapi keduanya berteman dekat. Tak jarang, mereka jalan bersama.

Warga sekitar mengaku sering memberikan makanan pada Gufran dan adik-adiknya. Atas kenyataan itu, warga menduga Gufran memilih bunuh diri karena belum membayar SPP di sekolah. Terlebih lagi, pada tanggal 9 Desember mendatang, sekolah Gufran akan mengadakan ulangan semester. Beberapa waktu lalu, teman-temannya mendengar Gufran berkata ingin pindah sekolah.

DiahiNews lantas mengonfirmasi ke Ketua Jurusan Listrik SMK Negeri 2 Kota Ternate, Ade Nyong. Dia mengaku tak tahu jika Gufran menunggak SPP. Ade Nyong kemudian memberikan nomor milik Wali Kelasnya. Namun sampai berita ini ditayang, Wali Kelas Gufran tak menjawab telepon DiahiNews.

Kapolsek Ternate Utara, IPTU Efrian Mustaqim Batiti, saat dikonfirmasi DiahiNews mengatakan, polisi masih mendalami motif peristiwa itu. Unit Identifikasi dari Polres yang akan melakukan pendalaman.

IPTU Efrian juga mendapatkan informasi dari Bhabinkamtibmas Kelurahan Tabam, bahwa Al Gufran memang cenderung tertutup. Terkait indikasi bunuh diri itu telah direncanakan sejak beberapa hari lalu oleh Gufran, IPTU Efrian juga mengatakan masih perlu pendalaman. Namun menurutnya, jika informasi bahwa Irawati Mansur disuruh untuk pergi membeli pentolan benar, maka indikasi rencana bunuh diri itu semakin kuat.

Saat ini, jenazah korban telah disemayamkan di rumah keluarganya di Kelurahan Kasturian, sambil menunggu kedatangan kedua orang tuanya.

BunuhDiri
Siswa

Penulis : Indra Alting

Komentar