Berita > News

Petugas Sampah Bekerja Tanpa Alat Pengaman Diri

Diahi
Petugas kebersihan yang tak menggunakan perlengkapan pengaman diri saat bertugas (Foto: Asri Sikumbang/DiahiNews)

TERNATE - Sebagian petugas pengangkut sampah di Kota Ternate rentan mengalami masalah kesehatan karena tak menggunakan perlengkapan pengaman diri saat bertugas.

Pemandangan itu setidaknya tampak pada hari Sabtu 3 Oktober 2020 di sekitar ruas Jl Sultan M Djabir Sjah, tepatnya di depan Masjid Raya Almunawar saat 4 petugas memindahkan isi dari sebuah bak sampah ke dalam truk sampah milik Dinas Kebersihan Kota Ternate.

Saat itu 4 petugas itu sama sekali tak menggunakan perlengkapan pengaman diri. Yang terlihat saat itu, dua petugas siaga di atas truk untuk menangkap sampah yang disodorkan dua rekannya yang tengah menguras sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS). Empat orang ini beraktifitas tanpa sarung tangan. Empat petugas itu hanya menggunakan buff yang melingkari leher mereka, yang sewaktu-waktu ditarik menutup mulut dan hidung untuk menghalau bau busuk yang menguar dari dalam sampah. Mereka tak mengenakan sepatu bot, hanya menggunakan sendal jepit dan sepatu kets.

Baca Lainnya :

Dengan alat pelindung diri tak memadai seperti itu, mereka berkeliling mengangkut sampah dan membuangnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Kelurahan Takome.

Menanggapi hal tersebut Kepala Bidang Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, Yus Karim,  mengatakan sebenarnya semua petugas pengangkut sampah itu sudah dibekali dengan perlengkapan kerja. Dan menurut dia, perlengkapan kerja itu ternyata hanya digunakan selama seminggu, dengan alasan tidak nyaman dan mengganggu saat bertugas.

“Sejak awal Covid-19 kemarin sudah tiga kali torang beli dorang pe peralatan; masker, maupun sarung tangan. Tapi dorang pake paling cuma satu minggu, dong ras gerah, rasa stengah mati. Dong bilang banapas me stenga mati, dong bilang kalo pake sarung tangan itu licin. Petugas lapangan ini kadang-kadang dong tara mau iko tong pe SOP (Standar Operasional Kerja),” ujar Yus.

Dia mengatakan dinasnya sebagaimana dinas lainnya di Pemkot Ternate ikut terdampak refocusing dana akibat pandemi covid-19. Meski begitu pengadaan peralatan kerja itu tetap dilakukan dengan dana sebesar Rp 10 juta. Peralatan kerja itu berupa masker, sarung tangan kaaret, sepatu bot, rompi oranye dan senter kepala.

“Karena Covid anggaran samua dicoret sehingga tong pe anggaran itu so tarada tong cari akal yang penting harus beli karena sesuai protap tarada,” kata dia. 

Dia mengaku instansinya sangat memperhatikan kesehatan para petugas kebersihan. Dan biasanya dalam evaluasi yang dilakukan dua minggu sekali, yakni tanggal 1 dan tanggal 15 bulan berjalan, dikenai sanksi 15 hari pemberhentian kerja sementara terhadap petugas yang melanggar SOP. Evaluasi itu berdasarkan laporan dari 3 pengawas yang ditempatkan di wilayah Ternate Selatan, Ternate Tengah dan Ternate Utara.  “Jadi pengawas itu yang selalu kawal pe dorang, tapi sama saja.”

Selain itu dua kali setiap bulannya, petugas kebersihan diperiksa kesehatannya seusai bekerja di TPA. “Ini adalah bentuk kerja sama antara DLH Kota Ternate dengan Puskesmas Sulamadaha. hal ini telah berlangsung mulai dari tahun 2019 sampai sekarang dan tak dibebankan biaya terhadap tenaga buruh kebersihan. Jadi bagitu dorang babuang, takumpul di atas (TPA) dong pereksa samua, sampe dong pe kuku, pereksa dorang pe kuman,” papar dia.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate memiliki 150 petugas pengangkut sampah dan untuk setiap truk ambrol ditempatkan 2-5 petugas, dum truk memiliki 5 petugas dan mitsubishi L300 memiliki 3 petugas. Sisanya sebanyak 104 orang sebagai petugas penyapu jalan.

Mengenai volume sampah, pada tahun 2018 tercatat sebanyak 60,6 ton/hari namun pada tahun 2020 meningkat menjadi 80 ton/hari.

“Ini bolom termasuk sampah yang dong (warga) buang di Brangka, belum termasuk yang dong buang di laut, kurang lebih bisa sampe 100 ton satu hari, tapi yang kitorang bisa angkut satu hari cuma, kurang lebih 80 ton,” jelas dia.

Sementara Kepala Puskesmas Sulamadaha Dokter Janet membenarkan bahwa ada kerjasama puskesmasnya dengan DLH untuk pemeriksaan kesehatan para petugas kesehatan. Namun kerjasama itu belum berbentuk MoU.“Memang ada kerja sama, tapi kan secara tertulis tarada,” terang dia. 

Dia menjelaskan pemeriksaan itu dilakukan karena memang lokasi TPA di Takome masuk dalam wilayah kerja puskesmas yang dia pimpin.

Janet kemudian menyilahkan seorang stafnya bernama Julaiha Yusuf untuk memberikan penjelasan lebih teknis. Julaiha adalah seorang perawat yang juga sebagai penanggung jawab pemeriksaan kesehatan di wilayah Takome. 

Dia membenarkan setiap bulan ada pemeriksaan kesehatan di Pos Pembinaan Terpadu (Poswindu) di TPA yakni pengukuran tekanan darah, kolesterol, dan asam urat.

Dia mengaku para petugas kebersihan itu selama pemeriksaan, belum ditemukan ada penyakit yang disebabkan oleh kuman. Dan setiap 4 bulan dalam pemeriksaan itu, melibatkan seorang dokter.

“Tapi syukur sampe hari ini tarada yang muncul panyake macam diare deng panyake kulit,” ujar dia.

Sampah
Corona
Covid-19

Penulis : Asri Sikumbang

Komentar