Berita > News

BPBD Imbau Warga Ternate Waspadai Banjir dan Longsor

Diahi
M Arif Abd Gani, Kepala BPBD Kota Ternate Menampilkan Peta Resiko Bencana Banjir di Kota Ternate (Foto: DiahiNews/Asri Sikumbang)

TERNATE - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate meminta warga di sejumlah kelurahan di Kota Ternate mewaspadai bencana banjir dan longsor di tengah cuaca ekstrim yang melanda Maluku Utara saat ini.

Kepala BPBD Kota Ternate, Arif Gani mengatakan berdasarkan peta resiko bencana, maka potensi banjir dan tanah longsor itu potensial terjadi pada 3 kecamatan di Kota Ternate, dengan resiko: rendah, sedang dan tinggi.

Resiko tinggi banjir berpotensi terjadi di Kelurahan Tubo, Dufa Dufa, Sangaji, Toboleu, Kasturian, Soa Makassar Barat, Kalumata, Gambesi, Sasa dan Jambula. Sedangkan kelurahan yang potensial mengalami tanah longsor menyebar pada 3 kecamatan: Utara, Tengah dan Selatan. Di Kecamatan Ternate Tengah, misalnya di Kelurahan Marikurubu dan Moya. Wilayah-wilayah ini diberi tanda merah dalam peta bencana.

Baca Lainnya :

Potensi tanah longsor juga terdapat di Kecamatan Pulau Hiri, yakni di Kelurahan Mado dan dataran tinggi Kelurahan Togolobe.

Arif mengimbau warga yang mendiami daerah bantaran Kali Mati dan tepi pantai untuk lebih waspada. Dia mengaku sejak La Nina berembus bulan Juni 2020, pihaknya sudah mengeluarkan imbauan kepada camat dan lurah di Kota Ternate untuk lebih waspada.

“Longsoran-longsoran yang terjadi di masa penghujan dari periode Juli sampai Desember (2020) hingga Januari ini ada 16 titik yang tersebar di Ternate, Hiri dan Moti,” jelas Arif.

Ditemui di kantornya, Senin 18 Januari 2021, Arif menjelaskan potensi bencana di Kota Ternate bukan hanya berupa banjir dan tanah longsor, tetapi terdapat 9 potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Potensi bencana itu meliputi tsunami, konflik sosial, banjir,  cuaca ekstrim, rawan gunung api, kebakaran, tanah longsor, gempa bumi, gelombang ekstrim dan abrasi. ”Semuanya ada sembilan potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja.”

Untuk mencegah tanah longsor, Pemkot Ternate menurut dia telah membangun sejumlah talud pada beberapa lokasi. Konstruksi talud sendiri menyesuaikan dengan kondisi lapangan.

“Talud yang sudah dibangun itu berada di Kelurahan Kampung Pisang, Rua, Salahudin, Foramadiahi, Jambula,” jelas dia.

Dia menambahkan, dengan adanya peta bencana, Pemkot Ternate melalui BPBD melakukan antisipasi meminimalisir resiko bencana, salah satunya dengan cara menyiapkan kelurahan tangguh bencana.

Terpisah Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Ternate Zaki Alin Nuari, menjelaskan kondisi cuaca di Maluku Utara secara umum hingga pekan depan, masih diwarnai hujan ringan hingga sedang pada sebagian wilayah di Maluku Utara.

Namun khusus di wilayah Halmahera Utara, pada tanggal 22-23 Januari diperkirakan akan mengalami curah hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang.

Sementara kecepatan angin di Kota Ternate, Tidore Halmahera Barat dan Halmahera Selatan diperkirakan mencapai 20 knot. Dan tinggi gelombang laut di perairan Halmahera Utara dan perairan bagian barat dan bagian timur Halmahera diperkirakan mencapai 2,5 sampai 3 meter.

Dia menjelaskan curah hujan yang terus mengguyur sebagian daerah Maluku Utara disebabkan adanya tekanan udara rendah yang menyebabkan pertumbuhan awan hitam. Khususnya di wilayah Utara.

“Maluku Utara mempunyai dua puncak curah hujan, yaitu pada Bulan Mei dan Desember, namun pada Januari terjadi curah hujan signifikan karena terjadi pergerakan tekanan udara yang menyebabankan awan hujan atau konfergensi bulan Desember di Maluku Utara berpindah ke wilayah Papua karena tekanan udara,” jelas Zaki Alin Nuari.

Curah hujan di Maluku Utara pada Bulan Januari 2021 mencapai 150 mm, atau masuk kategori tinggi.

Cuaca
CuacaEkstrim
Bencana

Penulis : Asri Sikumbang

Komentar