Berita > Feature

Warga Desa Wailoba Kepsul Menolak Hutannya Dirusaki Perusahaan Kayu

Diahi

 

Warga Desa Wailoba Kecamatan Mangoli Tengah Kabupaten Kepulauan Sula menolak eksploitasi hasil hutan yang dilakukan sebuah perusahaan bernama CV Azhara Karya. Sikap pemerintah desa setempat sejalan dengan warganya.

“Dong (CV Azzahra Karya,red) kase turun alat baru masyarakat tahu,”kata Boy Fokaaya, warga Desa Wailoba yang sementara menjalani studi di Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, di Kota Ternate.

Baca Lainnya :

Sekitar pukul 08.00 WIT Senin 14 Juni 2021 Boy dan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Perjuangan Masyarakat Wailoba, melakukan aksi unjukrasa di Kota Ternate. Mereka berkumpul di depan Dodoku Ali: Pelabuhan Kesultanan Ternate, kemudian berjalan menyambangi RRI Ternate dan berorasi di sana, lalu ke Pasar Bahari Berkesan dan berlanjut di depan Kantor Wali Kota Ternate.

Boy mengatakan unjukrasa itu adalah dukungan kepada warga desanya agar tak merasa sendiri dalam berjuang menolak kehadiran perusahaan kayu di desa itu. “Selebaran sebanyak 170 lembar dalam bentuk kertas HVS tong so bagi habis tadi di orang-orang,”kata Boy.

Desa Wailoba terdiri dari empat dusun. Dusun Satu dan Dusun Dua berada di pusat desa, sedangkan Dusun Tiga dan Dusun Empat terpisaj beberapa kilometer dari pusat desa. Mahasiswa Fakultas Hukum itu mengatakan meski jarang pulang kampung, dia tetap mengawal peristiwa di kampungnya.

Untuk menggelar aksi unjukrasa itu Boy dan kawan-kawannya menggalang dana dengan cara mengamen dua malam di belakang Jatiland Mall dan areal Parkir Pasar Bahari Berkesan Kelurahan Gamalama, Kota Ternate.

“Jadi ngamen dua malam, sampe Sabtu malam untuk kebutuhan-kebutahn turun aksi nanti. Anggaran yang tong dapa dua malam ngamen itu 550 ribu.”

Setelah dana itu terkumpul, dia dan kawan-kawannya bergerak mengkonsolidasi 8 organisasi asal Kepsul yang berada di Kota Ternate dan dua komunitas untuk melakukan aksi unjukrasa.

Boy mengatakan seluruh informasi mengenai perkembangan kasus itu disampaikan oleh Fihir Buamona, kerabatnya di kampung. Fihir harus menempuh perjalanan sejauh 15 kilometer untuk mengabari kondisi terkini di desanya, sebab desa itu belum mendapatkan akses telpon seluler. Boy mendapat informasi dari kampungnya bahwa perusahaan itu sampai saat ini belum mengantongi izin resmi membabat kayu.

Meski begitu, sejak tanggal 15 April 2021 perusahaan itu sudah mendaratkan 9 unit alat berat. Disusul kemudian tanggal 20 April 2021 dan bulan berikutnya perusahaan mulai melakukan pembukaan jalan sejauh 9 kilometer menuju desa tetangga, yakni Desa Capalulu.

Boy mengatakan seluruh aktifitas itu dilakukan tanpa sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah desa setempat.  Pembukaan badan jalan juga dilakukan di kilometer empat menuju Waidanas di Dusun Tiga dan mengorbankan tanaman cengkih dan pala milik warga Desa Wailoba.

Selain membuka badan jalan, perusahaan itu juga telah membangun barak untuk ditempati para pekerjanya. Boy kemudian meminta saudara-saudaranya di desa itu untuk mengiventarisir jenis kayu yang telah ditebang pihak perusahaan.

Warga Desa Wailoba memiliki pengalaman traumatik berurusan dengan perusahaan penebang kayu. Sebab dua perusahaan yang lebih dulu memasuki desa itu, yakni PT Samalita Perdana Mitra pada tahun 2018 yang mengolah kayu bulat dan CV Sula Baru pada tahun 2019-2020  meninggalkan dampak ekologi.

“Pohon kelapa di sepanjang bibir sungai besar banyak yang so rubuh. Ada juga tanaman-tanaman warga tergenang waktu hujan dan  orang mo bacuci deng mo bapukul sagu so tara bisa karena air so kotor.”   

Setelah elemen warga desa itu ramai-ramai melakukan penolakan, tanggal 10 Juni 2021 pemerintah desa setempat kemudian melakukan rapat umum di kantor desa. Dari video berdurasi 2:50 detik yang diterima Diahinews.com, rapat yang berlangsung di kantor desa dan dipimpin langsung Kepala Desa Idham Usia, itu bulat menyepakati menolak kehadiran perusahaan kayu.

Dalam rapat yang ikut di hadiri Muwardi Samual selaku BPD itu, Idham mengatakan selaku kepala desa, dia sama sekali tak tahu kehadiran pihak perusahaan. Idham menganggap pihak perusahaan tak menghargai Pemdesnya.

“Apakah semua warga yang hadir di sini kitorang sepakat menolak perusahaan atau bagaimana?,”tanya Idham.

“Tolaaaak.”

“Saya tanya satu kali lagi, batal menolak?.

 “Menolak..!!!!!  teriak warga.

Penulis : Asri Sikumbang

Komentar