Berita > Feature

Putra Sudah Dimakamkan, Jenazah Kakeknya Belum Ditemukan

Diahi
Jenasah Putra saat berada di rumah duka (Foto: DiahiNews/Abubakar Raden)

Orang-orang sedang tertunduk lesu. Beberapa masih basah pipinya. Salah seorang merekam dengan kamera ponsel. Beberapa lagi berbincang di bawah pohon di dekat kerumunan itu. Tanah yang masih merah ditimbun ke sebuah lubang dalamnya sekira 3 meter. Ada dua orang yang bertugas memadatkannya dengan cara diinjak-injak. Ada yang bertugas mendorong tanah itu ke lubang dengan pacul dan sekop.

Ini adalah pemakaman Putra Salmin, bocah 6 tahun yang menjadi korban banjir di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah. DiahiNews telah memberitakan peristiwa nahas itu siang tadi.

“Dorang.. pigi naik Pala (Pohon pala)... bilang pulang jam ampat (16.00 WIT, sore hari). Padahal tong tara tahu. Saya ke sana jam empat di samping Barangka tara bisa lewat. Karena banjir besar,” kisah Salmin Samsudin, ayah Putra tersedu-sedu. Nafasnya sesekali tersendat akibat tangis yang tertahan.

Baca Lainnya :

DiahiNews menyambangi rumah duka di Kelurahan Tongole, sekitar pukul 10.20 WIT, Rabu 3 Juli 2019. Ketika sampai, orang-orang telah ramai. Mulai dari dalam rumah, halaman, hingga ke pangkalan ojek di pinggir jalan, dekat rumah duka.

Jenazah Putra sedang dibaringkan di atas koi (tempat tidur). Di ruang tempat jenazah Putra dibaringkan itu, Yuli Angraini (29), sedang menyandarkan kepalanya di samping jasad anaknya. Tangan kirinya mengalasi pipi basahnya di atas kasur. Ia duduk melantai, dengan terus saja menangis. Suara tangisnya tersendat-sendat akibat terlalu lama bersedih.

Suaminya, berdiri di samping dengan terus melekatkan pandangan pada jenazah anak pertamanya itu. Tangannya berulang kali menyapu air mata yang terus mengalir. Walaupun suara tangisnya tak ke luar sama sekali, namun kesedihan begitu terlihat di matanya.

Putra Salmin adalah bocah yang baru saja naik kelas dua di SD Negeri 19 Kelurahan Tongole, Kota Ternate. Menurut Ibu Emi Kamariah, Kepala Sekolah, bocah berkulit sawo matang itu merupakan murid yang berprestasi. Meskipun ia terbilang murid yang malas ke sekolah, Putra merupakan bocah yang mendapatkan peringkat kedua dari 22 siswa di kelasnya.

“Walaupun dia jarang sekolah, tapi kalau begitu guru jelaskan hal yang baru di ujung, dia sudah bisa tangkap, begitu,” cerita Kepala Sekolah SD Negeri 19 Kota Ternate itu.

Emi juga menceritakan, Putra adalah sosok yang penyayang. Kehadirannya selalu dirindukan oleh teman-temannya di sekolah. Bahkan, pernah sekali Putra tak pergi ke sekolah, teman-temannya meminta agar Putra dijemput dan dibawa ke sekolah.

Selain itu, Putra juga selalu antusias ketika ditanyai menjadi pemimpin upacara bendera di hari Senin.

Dikisahkan sang ibu, Putra ikut kakeknya pergi ke kebun sekitar pukul 08.00 WIT. Yulia sendiri yang mengantar mereka berdua. Kebun itu berada di wilayah Kelurahan Tabona. Untuk sampai ke sana, mereka harus melewati sebuah Barangka (Kali mati) yang cukup besar.

Salmin yang bekerja sebagai tukang ojek pergi mencari nafkah lebih dulu. Ia baru pulang sekitar pukul 16.00 WIT. Ia kemudian menceritakan kisah selanjutnya.

“Anak mana?” tanya Salmin kepada istrinya.

“Iko (ikut) bapak pigi (pergi) kobong (kebun),” jawab sang Istri.

Memiliki firasat yang kurang enak, Salmin kemudian memutuskan untuk menyusul ayah dan anaknya itu ke kebun. Namun ketika sampai Barangka yang memisahkan Kelurahan Tongole dan Kelurahan Tabona, ia tidak bisa lewat. Di sana, banjir sudah sangat deras. Ia lalu memilih kembali dan mengajak kakaknya dan beberapa warga lainnya. Tapi banjir masih terlalu deras. Kedatangan ketiga, barulah mereka bisa melewati Barangka dan langsung menuju kebun.

Salmin Samsudin, ayah Putra Salim, korban banjir di Kelurahan Tongole (Foto: DiahiNews/Abubakar Raden)

Sesampainya di sana, mereka hanya mendapati api unggun yang masih menyala. Mereka pun memutuskan mulai pencarian. Mengikuti jalur Barangka. Tapi tak kunjung ditemukan.

Hingga pukul 23.30, pihak keluarga memutuskan menghubungi Basarnas. Kru Basarnas kemudian berangkat menuju lokasi pada pukul 23.40 WIT dan tiba di sana sekitar pukul 01.00 WIT. Basarnas menurunkan sembilan personil. Ini disampaikan oleh Syaiful Wijanarta, Kasi Koperasi Basarnas Ternate, ketika diwawancarai di rumah duka.

Saat itu, pihaknya telah selesai melakukan pencarian dengan menyelam di depan Kelurahan Kalumata. Karena sejak pencarian dini hari tadi, korban yang ditemukan baru Putra seorang diri. Kakeknya, Samsudin masih dalam pencarian. Basarnas dibantu warga dan Babinsa Tongole.

Basarnas memutuskan untuk melakukan penyelaman setelah pencarian yang nihil di darat sekitar pukul 12.15 WIT.

“Paginya, kami mengarahkan (pencarian) lagi, dari Tabona. Menyisir ke arah Tongole. Dari Tongole dia masih jalan turun ke bawah, dari Tabona dia naik ke atas untuk mencari, ketemu di tengah-tengah. Nah, ketemu di tengah-tengah tidak ada, makanya langsung dilakukan pencarian turun sampai ke Kalumata,” jelas Syaiful di tengah waktu rehatnya.

Dalam proses penyelaman, Basarnas menurunkan dua orang penyelam, termasuk Syaiful.

“Berhubung karena tim selam kami juga baru datang dari Sanana. Ada empat orang itu yang kapal tongkang. Jadi mereka capek, sehingga kami cuma dua orang.”

Tim menyelam pada kedalaman 20-30 meter. Keadaan laut saat itu masih keruh, akibat lumpur yang dibawa banjir sehingga menghambat pencarian karena jarak pandang sempit.

Syaiful menceritakan, ketika menyelam, dirinya mengikuti arus laut yang saat itu menuju ke Pulau Maitara. Arus di permukaan dan di bagian dalam laut berbeda. Setelah sekitar 40-45 menit menyelam, ia naik dengan tidak membuahkan hasil.

Kasi Koperasi Basarnas itu kemudian memutuskan bersama masyarakat, pencarian akan dilanjutkan besok, pukul 07.00 WIT, 4 Juli 2019. Ini disebabkan karena selain arus yang cukup deras dan jarak pandang yang terbatas, pihaknya masih ingin memastikan pencarian di darat. Besok pula, katanya, tim dari Lanal dan Polair akan bergabung.

Dia juga akan menyiapkan tim evakuasi di tempat.

“Satu kali menyisir lagi, sampai betul-betul mereka nyisir sudah tidak ada lagi, kan nanti kita bagi jadi dua. Yang di darat dan di laut. Jadi yang tim yang satu ini menunggu, kalau ditemukan berarti mereka bantu untuk evakuasi. Jika tidak, tim kedua ini akan melanjutkan penyelaman untuk pencarian,” tandasnya.

Hujan
Banjir
Ternate

Penulis : Indra Alting

Komentar